Tuesday, December 16, 2008

Potret Kerasnya Hidup

MINGGU, 6 Januari 2008, siang itu, gerimis turun menyambung hujan seharian. Tak ayal, pemandangan di kaki bukit Gunung Bulusaraung, tepatnya di Desa Bantimurung, Kecamatan Tondong Tallasa, Pangkep, terlihat sunyi dan gelap tertutup kabut. Meski demikian, kabut itu tetap saja tak bisa menutupi keindahan kampung yang seolah mati karena sepinya suasana
saat itu. Kehidupan yang sangat alami. Ya,begitulah kira-kira gambaran kampung yang berjarak sekitar 35 kilometer ke arah Tenggara Kota Pangkep itu. Beberapa bukit batu cadas tampak berdiri kokoh di kampung yang berada di ketinggian tersebut. Di sekitarnya, puluhan batang pohon dengan akar yangterlihat jelas tumbuh di antara semak belukar.Namun, dari beberapa deretan bukit-bukit yang seolah tersambung oleh kerindangan pohon di sisi kiri dan kanan
jalan, satu bukit yang berukuran agak kecil terlihat berbeda dari yang lainnya. Tampak bersih, meski beberapa pohon kecil masih tumbuh di atas dan sekelilingnya.

Yang membedakan bukit yang berada persis di sisi jalan ini dengan bukit lainnya, bukan sekadar karena kelihatan agak bersih. Namun, karena bukit seluas 15×30 meter itu juga berpenghuni. Sebuah pintu masuk dan pagar yang mengelilinginya malah sudah sangat meyakinkan bahwa sesungguhnya bukit itu adalah sebuah rumah tinggal.Memang benar, bukit itu adalah sebuah rumah. Rumah batu yang sebenar-benarnya. Bukan seperti rumah batu kebanyakan.
Rumah tersebut milik keluarga Hamdan. Di situlah Hamdan bersama istrinya, Sinta, beserta dua buahhati mereka; Nurkamsiah, 5, dan Nuraisyah, 3, tinggal sejak 2006 lalu.
Bagaimana awal cerita Hamdan dan keluarganya memutuskan tinggal di tengah-tengah bukit batu itu? Ternyata, prosesnya cukup panjang. Sempatmerantau ke Kolaka sekitar 16 tahun, Hamdan yang sempat mengenyam pendidikan hingga kelas III di SMEA Bungoro
memilih pulang ke kampung halamannya.Pria kelahiran tahun 1962 itu akhirnya mempersunting buah hatinya, Sinta yang tak lain warga Desa Bantimurung. Mereka menikah pada 1999 lalu. Setelah itu, iaberangkat ke Makassar untuk mencari nafkah sebagai pekerja bangunan. Ia memilih tinggal di Perumahan Telkomas.

Berselang tiga tahun kemudian, anak pertama mereka, Nurkamsiah lahir dan disusul anak kedua, Nurasyiah, dua tahun kemudian. Bosan bekerja di Makassar, Hamdan kemudian memboyong anak istrinyakembali ke kampung halamannya di Pangkep. Karena orangtua Hamdan sudah meninggal dan memang tidak punya rumah sendiri, suami-istri inipun memutuskan tinggal bersama orangtua Sinta. Namun Hamdan ternyata tak betah. Ia pun akhirnya memutuskan keluar dari rumah mertuanya. Sebagai istri penurut, Sinta tak perlu berpikir lama, apalagi mencoba untuk berdebat. Persoalannya adalah Hamdan yang sebatang kara tidak punya warisan, termasuk tanah. Ia juga tidak punya uang untuk membeli sebidang tanah. Namun, karena sudah mengikrarkan meninggalkan rumah mertuanya, otaknya pun bekerjasembari berdoa.

Tuhan ternyata memberinya petunjuk ke sebuah bukit di desanya yang berjarak sekitar tiga kilometer dari rumah mertuanya. “Waktu itu saya sangat terdesak. Saya bingung. Tapi karena tekad saya sudah bulat untuk hidup mandiri dan jauh dari bayang-bayang orangtua, saya pun akhirnya memutuskan tinggal di bukit inisetelah sebelumnya minta izin ke pemilik sawah di sekitarnya. Saat itu, di bukit ini ada sebuah gua yang untuk masuk di dalamnya kita harus berjalan miring. Di situlah saya tinggal hingga saat ini,” beber Hamdan kepadaFajar yang menemuinya.

Kepada penulis yang menemaninya berbincang hingga petang sambil menikmati makanan ringan hidangan istrinya, Hamdan bercerita panjang lebar. Menurut dia,bukan perkara mudah tinggal di dalam gua yang gelap dan hanya berukuran sekitar 4×7 meter. “Sebagai keluarga yang tidak punya apa-apa, saya datang ke gua ini hanya membawa beberapa peralatan makan dan
tidur. Tempat tidur pertama kami adalah balai-balai dari kayu dengan penopang batang pohon,” bebernya. Merasa kurang puas dengan kehidupannya di gua itu, otak Hamdan kembali bekerja. “Sebagai pekerja bangunan, saya punya jiwa seni. Saya selalu ingin berkreasi. Makanya, sedikit demi sedikit saya mulai bekerja untuk mengubahrumah batu saya ini betul-betul seperti rumah sambil tetap bekerja untuk menyambung hidup.Beberapa bagian bukit saya bakar dengan ban. Butuh 34 buah ban hingga akhirnya beberapa bagian bukit-bukti ini runtuh. Termasuk untuk pintu masuk,saya juga membuatnya,” cerita Hamdan sambil menunjuk pintu yang dimaksudnya.

Proses itu tak berjalan singkat. Untuk memperbaiki rumah batunya, Hamdan butuh waktu tujuh bulan untuk membelah-belah bukit dan menebang pohon-pohon besar di bukit itu. “Kalau sudah dibakar dengan ban, batu-batu jadi agak mudah dirubuhkan. Itulah yang terus saya lakukan sambil memahat bagian-bagian yang perlu diratakan. Dari hasil bekerja dan bantuan orang lain, saya juga sudah bisa membuat pondasi di sekeliling rumah,” katanya.

Saat ini, Hamdan sudah menyiapkan satu bagian bukit lagi untuk ruang tidur dan ruang tamunya. “Kalau ada uang, ruang tamu dan kamar di bagian tengah bukitakan saya kerja. Tapi untuk sementara, saya tinggal di dapur yang menjadi tempat makan sekaligus tidur kami. Malah di puncak bukit, saya juga berniat membuat tempatistirahat dan musalah,” bebernya.
Setelah bekerja cukup lama dan menjalani puasa dua kali di rumah batunya itu, Hamdan kini sedikit lebih santai. Apalagi, bukit cadas itu perlahan sudah berhasildisulapnya menjadi rumah. “Sekarang saya sudah punya rumah sendiri. Meski pun memprihatinkan, tapi saya dan
keluarga sudah sangat bahagia. Setelah bukit saya belah, awalnya saya memakai tenda untuk atap. Namun sejakbeberapa hari lalu, atap yang sudah berganti tiga kali saya ganti lagi dengan atap rumbia. Saat ganti atap, saya sempat menangis. Sebab cuaca cerah tiba-tiba berganti hujan dan anak-anak serta istri saya yang hamil tua ikut kehujanan. Saya terharu saat itu,” ujarnya.

Memilih tinggal di bukit batu yang kemudian disulap menjadi rumah, memang bukan hal mudah bagi Hamdan dan keluarganya. Selain harus menderita dan bekerja keras cukup lama, mereka juga sempat menjadi fokus perbincangan warga Desa Bantimurung. Bahkan, perbincangan warga sempat menjurus ke hal-hal yang menyakitkan. Inilah yang membuktikan bahwa meski watak Hamdan keras, ia ternyata cukup penyabar. Contohnya, ia tetap sabar menerima cemooh sejumlah warga. Saat pertama tinggal di rumah batu, beberapa warga menyebutnya sudah tak waras. Bukan hanya itu, alumni SMP Labbakkang Pangkep itu, dianggap bodoh meninggalkan rumah mertuanya dan tinggal di bukit batu.

“Lokasi rumah saya ini dulunya dikenal keramat. Jika sudah malam, warga takut melintas. Selain itu, bukit ini juga menjadi sarang biawak dan ular. Makanya, wajar kalau beberapa warga menilai saya sudah gila dan bodoh waktu itu,” kenang Hamdan penulis.

Namun, anggapan miring warga tak berlangsung lama. Kegigihan dan ketabahan Hamdan beserta keluarganya, sedikit demi sedikit memupus antipati warga menjadi simpati.
Apalagi, tempat yang dulunya dianggap keramat dan membuat warga takut melintas pada malam hari, sudah tidak terjadi lagi semenjak Hamdan dan keluarganya menempati tempat itu. Keluarga ini, juga mengaku sama sekali tidak pernah diganggu mahluk halus atau binatang liar.
“Malah Bupati Pangkep Syafrudin Nur juga pernah ke sini, Juni lalu. Ia sempat memberi uang ke anak saya,” beber pria berambut seleher ini.

Jika Hamdan yang punya jiwa seni dan sempat merantau sehingga terbiasa dengan kondisi tempat tinggal seadanya, bahkan aneh, lantas bagaimana dengan istri dan anak-anaknya yang masih kecil-kecil? Ternyata, tak jauh berbeda dengan Hamdan sendiri. Malah, menurut Sinta, istri Hamdan, ia sangat tulus tinggal di rumah itu karena memang mengerti kondisi
keluarganya. “Meski harus tinggal di bukit batu, saya tetap bahagia. Bahkan saya bersyukur kami punya tempat sendiri. Lagi pula, saya mau kemana kalau bukan di sini. Kami tak punya apa-apa,” kata Sinta.

Anak-anak mereka; Nurkamsiah dan Nurasyiah, juga demikian. Saat penulis mencoba bertanya soal kemungkinan gurunya bertanya tentang tempat tinggalnya ke Nurkamsiah yang kini sementara mengenyam pendidikan taman kanak-kanak dan sudah fasih membaca, ia langsung memegang tangan bapaknya dan berkata, “Saya bilang tinggal di rumah batu.”
“Anak sekampung sebayanya malah sering berkumpul di sini untuk bermain,” sambung Sinta seolah mempertegas perasaan anaknya yang kini tinggal di rumah batu itu. Bercerita soal anak-anaknya, Hamdan dan Sinta terlihat begitu bersemangat. Keduanya malah mengungkapkan bahwa saat ini, anaknya jarang ke rumah neneknya. Hal lain yang mereka syukuri bahwa anak-anaknya yang dulu kerap sakit-sakitan sejak tinggal di rumah batu, ternyata tidak lagi. Malah seingat mereka, keduanya tidak pernah sakit selama dua tahun terakhir.

“Saya juga heran. Melihat kondisi rumah kami, mereka seharusnya sering sakit. Namun, ternyata tidak. Kalau dipanggil neneknya, mereka dengan lugu mengatakan tidak mau sebab katanya adaji rumahnya sendiri. Mereka mau hidup susah bersama kami,” cerita Hamdan yang sempat menolak tawaran keluarganya yang hendak memberinya tempat bernaung.
Memang, dari cerita Hamdan, rumah tinggalnya cukup bagus untuk sirkulasi udara. Saat malam, hawanya hangat meski angin bebas masuk melalui celah-celah batu dan atap. Sementara pada siang hari, meski terik matahari, hawanya tetap sejuk.

Hamdan bahkan berandai-andai bahwa andaikan di dunia ada surga, maka rumah miliknya tersebut adalah surga. Dia mengaku merasakan perasaan itu. “Kemungkinan itu pengaruh dari air yang berada di bawah rumah kami. Sebab, memang beberapa sisi itu lowong di
bawahnya. Itu kami jadikan kolam dan kita tempati memelihara ikan lele dan mujair,” bebernya.
Meski tinggal di bukit batu dan jarak rumahnya cukup jauh dengan rumah warga lainnya, Hamdan dan keluarganya tak takut gelap. Selain di jalanan dekat halamannya ada lampu jalan, di rumahnya juga sudah ada listrik. Hanya memang karena kurang mampu, listriknya terpaksa harus menyambung dari rumah kakak sepupunya. “Kalau mau buang air besar juga numpang di WC tetangga. Tapi dalam waktu dekat, saya akan membuat WC. Tembok untuk persiapan tempat penampungannya juga sudah ada,” ujarnya saat mengajak saya berkeliling bukit melihat kondisi rumahnya dari luar.

Kepada penulis, Hamdan menegaskan tidak pernah lagi berpikir pergi merantau setelah punya rumah sendiri. Ia juga menyampaikan rasa bersyukur karena sudah dapat Bantuan Langsung Tunai (BBM). Kalau beras miskin, menurutnya belum karena masih sementara diurus kepala desanya. Ia memaklumi hal itu, sebab memang belum punya kartu keluarga. Saat ini, Hamdan dan istrinya sedang menantikan kelahiran anak ketiga mereka. Karena dua anak sebelumnya
berjenis kelamin perempuan, Hamdan dan istrinya pun berharap Tuhan memberinya anak laki-laki.

“Sekarang saya sedang hamil delapan bulan. Dan untuk melengkapi kebahagian di rumah ini, kami berharap anak laki-laki,” ujar Sinta, malu-malu. (amiruddin@fajar.co.id)

foto Ibu Ijah, 10 tahun hidup di bawah tenda


2004 lalu, saya saban hari melihatmu di pinggir jalan itu......
2007...saya baru sempat mendekatimu....
Malang niang nasibmu.....
Tapi sejak pelebaran jalan, awal tahun lalu, saya tak pernah lagi melihatmu Ibu Ijah.....
Apakah kau sudah mendapatkan tanah lapang baru untuk tenda mu?
Lanjutkan perjuangan. Merdeka!!!

Ibu Ijah, 10 Tahun Hidup di Bawah Tenda

MANUSIA berharap bisa menghabiskan sisa-sisa hidupnya dengan nyaman dan tenang. Termasuk tinggal di rumah dan selalu dekat dengan orang-orang tercinta.Namun, hal itu tak berlaku bagi Ibu Ijah, 70. Di usianya yang sudah senja, ia malah menghabiskan masa tuanya di bawah tenda, tanpa keluarga, dan tanpa kasih sayang.
*******************************************************************
SEORANG ibu tua dengan rambut yang sebagian besar sudah memutih karena uban, sore itu, 28 Mei 2007, tampak sibuk menjahit bajunya yang robek. Sama sekalidia tak menghiraukan keadaan di sekelilingnya. Bunyi suara knalpot mobil dan motor yang melintas hanya sekitar enam atau tujuh meter dari tempatnya duduk tak membuat dia berpikir berhenti dari aktivitasnya itu.

Sekitar setengah jam kemudian, perempuan tua itu mengambil dua tas. Satu tas pinggang dan satunya lagi ransel. Setelah itu, ia bergegas berdiri dan keluar dari balik tenda berwarna biru yang penuh sesak dengan barang. Sejenak ia merapikan rambutnya dan berniat selangkah. Namun baru saja akan melangkah, penjual es campur yang berjualan tak jauh dari tenda berwarna biru, tempat perempuan tua itu, datang dan menyapanya.

Mereka terlihat berbincang serius. Si wanita beberapa kali menunjuk ke arah tenda. Entah, apa yang ditanyakan si penjual es campur tadi. Perempuan tersebut adalah Ibu Ijah. Ia tinggal di Jl Perintis Kemerdekaan, persis di samping swalayan Alfa. Tapi yang ia tinggali bukanlah rumah sepertilayaknya warga lain di Jl Perintis. Ibu Ijah tinggal di bawah sebuah tenda yang ia pasang sendiri seperti layaknya anakpramuka di sekolah-sekolah.

Di dalam tenda itu, Ibu Ijah memiliki dua kompor, beberapa panci, gelas, piring, tempat air yang
dibeli sendiri, serta pakaian yang dibungkus beberapa tas.“Saya sudah beberapa tahun tinggal di sekitar sini. Pastinya saya tidak ingat lagi, namun kira-kira sepuluh tahun. Sebelum di tempat tenda ini, saya tinggal di lokasi bangunan Alfa, juga dengan tenda. Saat Alfa mulai dibangun saya pindah ke sini,” kata Ibu Ijah sambil menunjukkan tenda tempat tinggalnya kepada penulis
yang ikut mendekati tendanya beberapa saat setelahpenjual es campur tadi menyapanya.
Siang itu, saat si penjual es campur mendatanginya bersama penulis yang menyusul kemudian,
Ibu Ijah mengaku akan ke salah satu rumah di sekitar jembatan Tello. Namun, rencana itu diurungkan karena sibuk melayani pertanyaan-pertanyaan penulis.Meski hanya tinggal di bawah tenda dan tidur di atas tumpukan barang-barang, termasuk tas pakaiannya, namun ia terlihat tegar. “Saya sudah terbiasa. Saya memasak, makan dan tidur di sini. Kemarin (dua hari lalu, red) saya juga sempat membeli ikan Rp2.000,” katanya.

Ia lantas membuka panci yang masih berisi nasi yang baru saja matang dan belum disentuh sama sekali. Karena tinggal di bawah tenda, hidup Ibu Ijah tidaklah enak dan nyaman. Bahkan, menurutnya, jika malam tiba, ia tidur di atas tumpukan barang-barang
miliknya. Tak ada lampu ataupun pelita di dalam tendanya. “Lampu jalan cukup terang, makanya saya tidak mencari lampu sendiri. Kalau malam, saya tidur ditemani kucing. Nyamuk juga banyak, tapi saya sudah terbiasa,” ujarnya menceritakan kehidupannya.

Ia juga mengaku tak pernah kehujanan di bawah tenda itu, sebab tidurnya di atas barang dan hanya beberapa centimeter saja dari tenda. Hanya saja, bunyi hujan yang menerpa tenda diakui mengganggu saat iamencoba tidur.Selama sekitar sepuluh tahun hidup di bawah tenda, Ibu
Ijah mengaku tak pernah sakit keras. Paling-paling, ia hanya sakit kepala. Untuk tetap bertahan hidup, Ibu Ijah mengaku banyak dibantu orang. “Saya biasa dikasi uang sama orang. Uang tersebutlah yang saya pakai beli beras,ikan, serta peralatan masak,” bebernya.

Pengakuan Ibu Ijah itu juga dibenarkan tukang becak yang mangkal di depan Alfa. Bagaimana
sebenarnya awal Ibu Ijah tinggal di bawah tenda. Apakah ia memang tak punya keluarga? “Saya sebenarnya orangLeureng, Siwa, Sengkang. Saya juga punya rumah di sana, namun diusir orang. Barang-barang saya juga diambil. Kalau di Makassar ini, saya tidak punya rumah, jadi saya tinggal di tenda saja,” katanya seraya menyebut bahwa yang menyuruh dia pergi dari rumahnya bukan dari keluarganya.

Ia juga mengaku punya beberapa anak. Suaminya yang sudah meninggal bernama La Muga, seorang bekas tentara asal Tala, Pangkep.“Saya melahirkan anak sepuluh. Tiga di antaranya
meninggal. Ada juga di antara anak saya sopir mobil. Setelah suami pertama saya meninggal, saya sempatkawin lagi namun akhirnya saya tinggalkan,” katanya yang sesekali berbicara dalam bahasa Bugis. Ibu Ijah sendiri tak banyak bercerita soalanak-anaknya. Termasuk di mana mereka dan kenapa ia tak ikut pada salah satu anaknya yang sudah besar.Informasi yang dihimpun penulis menyebutkan bahwa Ibu Ijah juga adalah salah satu korban kospin yang sempat menghebohkan Sulsel. Hal itu juga diperkuat dengan pengakuan Ibu Ijah sendiri saat penulis mendesaknya. Ia malah mengaku kehilangan uang sekitar Rp50juta. amiruddin@fajar.co.id)

Takluknya Tolotang oleh Pemerintah

Di Kelurahan Amparita lama, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidenreng Rappang, sebuah komunitas bernama Towani Tolotang, bermukim sejak ratusan tahun lalu. Komunitas ini, terjaga secara turun-temurun dan terus berkembang hingga sekarang ini.
Bagi sebagian orang, ketika mendengar komunitas Tolotang disebut, mungkin akan berpikir tentang sebuah kampung pedalaman yang orang-orang di dalamnya begitu tertinggal layaknya pemukiman dan komunitas di pedalaman Papua. Namun itu sama sekali salah. Sebaliknya, komunitas ini berada di ibukota kecamatan.

Dari ibukota kabupaten, Pangkajene, Amparita hanya berjarak sekira 8 km. Jarak tempuh dengan kendaraan roda dua ataupun empat paling lama setengah jam. Sementara dari Kota Makassar, Amparita hanya berjarak 231 km. Tak ada ciri khusus yang begitu membedakan komunitas ini dengan masyarakat sekitar yang mayoritas suku Bugis. Bahkan, mereka juga tetap menegaskan identitas dirinya selaku orang Bugis. Hanya saja, mereka punya kepercayaan
berbeda dari warga lain yang mayoritas beragama Islam.

Salah seorang tokoh Tolotang, Edy Slamet yang dalam komunitasnya dikenal dengan nama Wa Eja, kepada penulis 7 Maret 2008 di gedung DPRD Sidrap mengatakan, cukup panjang kisah dan sejarah tentang keberadaan mereka di Sidrap. “Komunitas kami masuk di Sidrap berasal dari Wajo. Towani itu nama sebuah kampung atau desa di Wajo. Yang membawa adalah Ipabbere, seorang perempuan. Ia meninggal ratusan tahun lalu dan dimakamkan di Perinyameng,
sebuah daerah di sebelah barat Amparita. Makam Ipabbere inilah yang kemudian selalu dikunjungi dan ditempati untuk acara tahunan komunitas ini yang selalu ramai,” cerita Wa Eja.

Acara adat tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Januari itu juga merupakan pesan dari Ipabbere. “Kami selalu membuat acara tahunan di Perinyameng. Sebab orangtua yang dikuburkan di situ, memang berpesan ke anak cucunya bahwa jika kelak ia meninggal, kuburnya harus diziarahi sekali setahun. Makanya, seluruh warga komunitas berdatangan dari segala penjuru, mulai dari Jakarta, Kalimantan, hingga Papua. Bahkan hanya yang cacat dan anak-anak saja yang tak hadir setiap Januari itu,” klaim anggota DPRD Sidrap ini.

Awalnya sebenarnya, komunitas ini penganut aliran kepercayaan. Namun karena ada kebijakan pemerintah yang tidak mengakui hal itu, maka pada tahun 1996, pemerintah memberi tiga pilihan ke warga Tolotang. Aturan itulah yang akhirnya membuat komunitas Tolotang takluk. Mereka akhirnya harus menanggalkan aliran kepercayaannya yang sudah dianut sejak ratusan tahun. “Pemerintah saat itu tidak mengakui kalau ada aliran kepercayaan. Makanya dipanggillah tokoh komunitas kami untuk cari langkah menjadi agama.Ditawarilah tiga agama; Islam, Kristen, dan Hindu. Komunitas kami harus memilih salah satunya, maka dipilihlah Hindu. Saat itu, kita resmi beragama bernaung di bawah Hindu. Namun adat istiadat sebagai komunitas Tolotang tetap terjaga,” ujarnya.

“Sejak saat itu, jika ada acara Hindu di luar Sulsel, seperti Jakarta dan Bali, kami selalu diundang khusus,” ungkap Wa Eja.

Wa Sunarto Ngate, salah seorang tokoh Towani Tolotang yang ditemui di rumahnya di Amparita, juga mengatakan hal senada. Menurutnya, Towani Tolotang resmi berafiliasi dengan Hindu pada tahun 1966. “Kita ini sudah sebagai mashab Hinduisme sejak 1966. Itu berdasarkan surat keputusan Dirjen Bimas Hindu nomor dua dan nomor enam tahun 1966,” katanya.
Mengapa memilih memeluk Hindu? Menurut Wa Sunarto, alasannya sederhana. Di antara semua agama yang ditawarkan pemerintah, Hindu-lah yang punya kesamaan dan kemiripan, termasuk soal prinsip. “Hindu bisa memahami kami dan begitu juga sebaliknya,” katanya.
Terkait sejarah komunitas ini, Wa Sunarto menambahkan pernyataan Wa Eja. Menurutnya, Tolotang berasal dari Wajo. Komunitas ini ada di sana jauh sebelum Islam masuk. Waktunya sekira abad ke-16. Hanya saja tidak berkembang seperti sekarang. “Jadi kalau dikatakan Tolotang ini baru, itu pendapat keliru. Sebab menurut kami jauh sebelum abad ke-16 sudah ada,” jelasnya.

Namun menurutnya, karena sebuah proses sejarah, Tolotang kemudian harus berpindah. Masuknya Islam di Wajo rupanya tidak bisa memberi ruang yang bebas untuk berkembangnya bagi Tolotang. “Makanya beralih ke Amparita. Itu sekira abad 17,” beber Wa Sunarto.
Sejak itu, Tolotang berkembang dan diayomi pemerintahan Sidenreng. Terjadi hubungan yang baik antara warga Tolotang dengan warga komunitas lain. Hingga saat ini, di semua kecamatan di Sidrap anggota komunitas ini pasti ada. “Bukan di Amparita saja. Komunitas
Tolotang juga ada di Maritengngae, Tellu Limpoe, Wattangpulu, Sidenreng, Dua Pitue, serta Dua Pitue Lama. Hanya saja, basis utamanya memang di Tellu Limpoe. Tokoh adatnya juga banyak dan menyebar di seluruh kecamatan,” kata Wa Eja.

Rumah Tokoh tak Punya Kursi

SORE itu, Kamis, 7 Maret sekira pukul 16.50 Wita, delapan lelaki tua terlihat sibuk meraut bambu di kolong rumah salah satu warga. Bentuk rumah yang berarsitektur tempo dulu itu persis sama dengan dua rumah di sampingnya, namun jauh beda dengan rumah-rumah lain di sekitarnya. Bambu yang diraut kecil-kecil itu untuk balai-balai di tiga rumah yang berarsitektur tempo dulu tersebut. Mata kedelapan laki-laki tua itu terlihat awas ketika penulis yang baru
saja turun dari salah satu rumah di sampingnya mendekat. Sambil memainkan parang di atas potongan bambu yang dipegang dan diraut, mata mereka tak henti memperhatikan gerak-gerik penulis.

Saat penulis menyampaikan maksud ingin mengabadikan mereka dengan foto, salah satu di antaranya sontak bertanya, “Buat apa?” Setelah penulis memberi penjelasan panjang lebar, mereka pun akhirnya mengerti juga dan mau difoto. Ke delapan lelaki tua itu adalah warga komunitas Towani Tolotang. Sore itu, mereka sedang meraut bambu untuk anyaman balai di rumah tokoh adat mereka. Pemandangan seperti itu sudah hal lumrah di Kelurahan Amparita Lama Kecamatan Tellu Limpoe.

Setiap kali balai bambu rumah tokoh adat rusak, warga komunitas ini akan berkumpul dan bekerja bersama-sama untuk sekadar memperbaiki atau menggantinya. Mereka begitu teguh mempertahankan adatnya yang masih bersifat feodal. “Kalau ada bambu yang patah atau rusak, warga komunitas Towani Tolotang akan bekerja bersama memperbaikinya,” kata Wa Eja atau Edy Slamet, salah satu pemilik rumah adat di jejeran tiga rumah adat di tempat itu.
Seperti penulis tulis di atas, Wa Eja merupakan salah satu tokoh Tolotang yang duduk di DPRD Kabupaten Sidrap. Wa itu sendiri adalah sebutan tokoh generasi penerus dari pimpinan adat.
Kembali ke soal rumah. Rumah tokoh adat Tolotang sangat jauh beda dengan rumah warga lainnya, khususnya di luar komunitas ini. Satu hal yang paling tampak jelas membedakan adalah tiang rumah yang segi delapan dan bundar.

“Rumah adat punya ciri khusus. Namun bentuk ini tidak tertutup kemungkinan bisa diikuti warga biasa. Semuanya disesuaikan kemampuan. Model ini sejak dulu menjadi adat kami,” cerita Wa Eja. Tokoh adat lainnya, Wa Sunarto Ngate yang ditemui penulis di Amparita juga membahas soal tiang rumah yang bentuknya bulat. Secara khusus, ia bahkan menyebut bahwa tiang bulat itu punya makna khusus. “Tiang bulat itu diibaratkan bahwa paham Tolotang ini kokoh terus, dan dipegang teguh. Tekad komunitas ini bulat dan kuat sepanjang masa,” katanya.

Bukan hanya tiang dan arsitektur luar rumah yang beda dari rumah kebanyakan. Bagian dalam rumah juga demikian. Di rumah adat, jangan pernah berharap menemukan satu kursi pun. Sebab memang rumah adat tidak dibolehkan memiliki kursi. Kalau di rumah warga biasa komunitas ini, itu tidak diatur secara khusus. Mereka bisa saja memiliki kursi.
“Tidak ada kursi di rumah adat. Sebab memang hanya didiami tokoh. Para Uwa yang tinggal di situ. Rumah ini menjadi tempat suci selain makam leluhur di Perinyameng. Secara keseluruhan, jumlahnya di Amparita sekira 30-an rumah,” jelas Wa Sunarto.

Selain di rumah tokoh adat dan pengabdian para warga komunitas Tolotang, acara-acara lain juga masih sangat kental dengan nuansa adatnya. Dalam hal penentuan hari H acara ziarah kuburan I Pabbere di Perinyameng, misalnya. Hari dan tanggalnya ditentukan berdasarkan hasil tudang sipulung tokoh adat. Biasanya para tokoh adat disaksikan warganya berembuk menentukan hari baik. “Saat hari H juga kita punya acara adat, massempek (saling tendang,Red). Dulu, massempek ini melibatkan orang dewasa. Namun karena pernah ada gesekan yang muncul dan ditakutkan muncul dendam, akhirnya orang dewasa diganti oleh anak SD,” tambah Wa Eja.

Kemampuan komunitas Tolotang menjaga adatnya juga banyak menarik minat peneliti dari berbagai negara di dunia. Peneliti-peneliti dari Amerika, Jerman, Jepang, Kanada, serta Belanda, sudah sering ke Amparita untuk secara khusus mendalami komunitas ini. “Mereka menanyakan budaya Tolotang dan adat istiadatnya. Rumah-rumah juga diteliti. Itu sejak tahun 70-an. Ada juga beberapa polisi dan mahasiswa yang ingin menyelesaikan program S1, S2, atau S3-nya yang datang meneliti di sini,” kata Wa Eja yang mengaku sebagai tokoh lapisan kedua.

Dilarang Kawin di Luar Komunitas

Sebelum abad ke-16, komunitas Towani Tolotang terus berkembang. Hingga kini, jumlah mereka secara keseluruhan,– termasuk di sejumlah provinsi di luar Sulsel, menghampiri 40 ribu orang. Namun sayangnya, hingga saat ini, mencari informasi dari sumber-sumber pada komunitas ini sendiri sangatlah sulit. Jangan pernah berharap bahwa warga kebanyakan komunitas ini akan melayani atau menjawab pertanyaan Anda soal komunitasnya. Sebab urusan komunitas ini, seluruhnya ada di tangan tokoh adat yang biasa disapa Wa atau Uwa. Untuk mencari tahu komunitas ini, harus melalui mulut seorang Wa. Tapi, informasi satu pintu itulah yang membuat komunitas ini tetap bertahan seperti sekarang. Langgengnya komunitas ini, juga ditopang prinsip yang mereka pegang secara turun temurun. Prinsip tersebut adalah tetteng (dalam bahasa Bugis: artinya konsisten). “Prinsip yang kami pegang sejak awal adanya kepercayaan Tolotang adalah semboyan tetteng. Kami berpegang teguh, tidak berubah dan tidak terpengaruh dengan kondisi apa pun. Kami bukan tidak menerima perkembangan yang ada, namun prinsip tetap kami pegang teguh,” kata Wa Sunarto Ngate, di rumahnya.

Penulis sendiri bisa berbincang dengan Wa Sunarto setelah direkomendasikan Wa Eja alias Edy Slamet. Komunitas ini bertahan hingga kini, juga karena adanya doktrin dini dari nenek moyang kepada keturunan-keturanannya. Sejak kecil, anak-anak komunitas ini, sudah diberi pemahaman dan pesan khusus soal Towani Tolotang. Para Wa-lah yang paling berperan untuk memberi pemahaman. Sebab, mereka memang mengambil peran selaku tokoh yang memberi pencerahan agama atau dalam Islam lazim disebut ustaz. Meski demikian, seiring perkembangan zaman, ada juga beberapa warga komunitas ini yang akhirnya berubah haluan.
Mereka lebih memilih keluar dari komunitasnya dan memeluk Islam. “Banyak yang bergeser masuk Islam.Bahkan, banyak yang sudah berhaji. Setelah berpindah agama, tidak ada lagi kewenangan mereka di Tolotang. Pernikahan juga menjadi salah satu pemicu adanya pergeseran ini. Dan kami memang cukup ketat soal itu. Semua yang menikah di luar Tolotang, termasuk Islam, berarti sudah keluar. Mereka tidak diakui lagi,” kata Wa Eja.

Namun, adanya perpindahan agama itu tak membuat permusuhan. Sebab dari awal, warga Tolotang memang punya hubungan baik dan keakraban dengan masyarakat yang lainnya. “Kami selalu rukun dan damai. Sebab, di Amparita, Tolotang dengan masyarakat Islam memang rata-rata punya hubungan famili. Bahkan, orang Islam yang tidak punya hubungan famili dengan kami hanya yang betul-betul datang dari luar Amparita,” bebernya.
Hal ini juga dibenarkan Wa Sunarto. Bahkan, secara khusus, dia menegaskan bahwa komunitas Tolotang merupakan bagian dari etnis Bugis. “Tolotang itu etnis Bugis juga. Cuma, bedanya dalam hal kepercayaan saja. Bahasa kita bahasa Bugis juga,” tegasnya.

Soal sejumlah warga komunitas yang memilih meninggalkan Tolotang, Wa Sunarto mengatakan, mereka memilih keluar karena memeluk Islam. Mereka yang memeluk Islam ini, kemudian menamakan diri Tolotang Benteng. “Sebagai komunitas yang terbuka, memang tidak menutup kemungkinan ada warga kita yang keluar dari Tolotang. Tapi memang dipersilakan saja. Tidak dipermasalahkan. Tapi sebaliknya, juga demikian. Ada juga penganut lain yang mau bergabung dengan kami. Hanya memang, hal itu sangat sulit. Bahkan, bisa jadi tertutup.Sebab, prinsip kami, Tolotang tidak berkembang dengan menerima orang lain. Kami tidak pernah seperti itu. Kita berkembang berdasarkan anak cucu,” jelasnya seraya menambahkan bahwa rata-rata warga Tolotang berprofesi petani.

Mengenai munculnya Tolotang Benteng yang disebut-sebut merupakan Tolotang yang menganut Islam, Wa Sunarto juga membenarkannya. Namun katanya, di Towani Tolotang, itu tak diakui. “Di Amparita ada dua Tolotang. Ada yang menamakan diri Tolotang Benteng. Tapi kami tidak pernah mengenal dua. Kami tidak tahu siapa yang mengatasnamakan itu. Yang pasti, kamilah Tolotang asli yang punya paham Hindu. Dalam ritual, mereka tidak lagi diikutkan. Tapi konon kabarnya, mereka juga punya Uwa. Tapi, silakan saja jalan, kita jangan saling ganggu,”
tegasnya.

Wa Sunarto juga mengaku cukup salut dengan warga Amparita. Menurutnya, selama ini, mereka bisa hidup rukun dan damai. “Kita selalu terbuka. Saling bahu-membahu. Cuma tak dapat dipungkiri juga, dalam proses sejarah, membangun kebersamaan itu tak mudah. Ada bukti sejarah yang tidak tersembunyi bahwa pernah juga terjadi gesekan. Ada sekelompok orang yang memiliki keinginan keras memaksakan kehendak. Tapi, kita klaim itu hanya
oknum. Beberapa orang saja. Saya tidak generalkan,” katanya. (amiruddin@fajar.co.id)

Perginya Sang Kapten Timnas

DUNIA sepak bola Makassar dan Indonesia, Minggu, 9 Maret 2008 kira-kira pukul 09.15 WIB, berduka. Nus Pattinasarani, sang legenda sepak bola, meninggal dunia di Rumah Sakit Omni Medical Center di Jl Pulomas Barat VI No 20 Jakarta Timur. Nus awalnya dilarikan ke RS
yang dahulu bernama RS Ongkomulyo Medical Center itu pada pukul 05.30 WIB dengan ambulans. Namun sayang, nyawanya tak tertolong.

Nus Pattinasarani yang lahir di Magelang, 6 Juni 1923, itu meninggal dunia di usia 84 tahun. Ayah enam anak yang akrab disapa Om Nus itudikebumikan di San Diego Hill, Bekasi, Selasa, 11 Maret 2008. Saat ini, jenazah gelandang terbaik PSM di era 50-an dan 60-an tersebut, masih disemayamkan di rumah duka di Jl Sunter Mas Barat Blok H 12 No 6 Jakarta. “Bapak sempat
dirawat beberapa jam sebelum meninggal. Kami kurang tahu pasti penyakitnya, yang jelas sebelumnya bapak disimpulkan kena penyakit ginjal,” kata Dony Pattinasarani.

Dony yang berulang tahun sehari menjelang kematian ayahnya mengaku memang sudah punya firasat bahwa orangtuanya akan pergi untuk selama-lamanya. “Sehari sebelumnya, bapak mengatakan akan memberi saya kado ultah istimewa. Saat itu, saya hanya bilang tidak usah pikir kado. Bapak panjang umur saja, itu yang penting. Perkataan bapak saat itu, saya pikir sebuah pertanda bahwa ajalnya segera tiba,” cerita Dony.

Di mata keluarga, selain sebagai orangtua yang baik, mereka juga kagum dengan prestasi Nus dalam dunia sepak bola. “Bapak sejak tahun 50-an, sudah di PSM. Bapak juga sempat menjadi kapten timnas. Saat itu, kalau tidak salah, tahun 1956, bapak menjadi kapten di Asian Games di Manila. Bapak juga pernah membawa PSM juara bersama Mangandaan. Selain itu, bapak juga pernah melatih Makassar Utama,” beber Dony.

Di masa melatih, dua kali Nus membawa PSM juara perserikatan tahun 1959 dan tahun 1961. Karena prestasi itu pula, PSSI memberi penghargaan Bintang Satya Emas. “Karier beliau sangat sempurna. Kami banyak berguru kepadanya saat masih hidup. Beliau keturunan Ambon-Belanda, tapi jiwa Makassarnya sangat kental. Sangat sedikit sosok pesepak bola yang memiliki karakter seperti dia,” ungkap Syamsuddin Umar, asisten pelatih timnas Indonesia yang juga baru mengetahui kabar kematian Nus itu sore kemarin.

Bukti sukses Nus di sepak bola bisa dilihat dari kemampuannya mendidik dua anaknya menjadi pesepak bola nasional, yakni Ronny Pattinasarani dan Doni Pattinasarani. Seperti diketahui, Ronny adalah satu-satunya pemain sepak bola yang pernah meraih atlet terbaik Indonesia dua kali berturut-turut. Sepak bola pula yang membawa dia dan keluarganya menetap di Jakarta untuk mencari hidup. Nus adalah sederet pemain kawakan PSM yang pernah merasakan
bangku timnas seperti halnya Itjing Pasande, Husein, Makmur Chaeruddin, Santja Bahtiar, John Simon, Rasyid Dahlan, Idris Mappakaya, Saleh Ramadaud, M Basri, Sueib Rizal, Tony Ho, dan lain-lain.

Beberapa mantan pemain PSM dari Makassar seperti Syamsuddin Umar, Abdi Tunggal berencana menghadiri pemakaman jenazah almarhum di Pemakaman Umum Santiago Karawang Bekasi, Selasa 11 Maret. Pihak keluarga sengaja menunda pemakaman lantaran
satu anaknya, Ronny Pattinasarani masih berada di Guangzhou, Tiongkok menjalani pengobatan. Ronny sedang menderita penyakit kanker hati yang diidapnya selama beberapa tahun terakhir. Satu yang kental dari keluarga pesepak bola berdarah Ambon-Belanda ini karena mereka tetap menjadikan dialek Makassar sebagai bahasa keseharian. Dalam dirinya,
karakter Makassar tak pernah terlupakan.
Sesaat setelah berada di rumah duka siang kemarin, sejumlah tokoh olahraga dan wartawan juga datang berbelasungkawa. Bukan hanya dari kalangan keluarga, Nus juga menjadi teladan mantan-mantan pemain PSM. Tony Ho, misalnya. Menurut dia, Nus tidak bisa dipisahkan dari sepak bola Makassar dan Indonesia. “Dia pelaku sejarah. Mulai dari era Ramang sampai era kami, dan menjadi pelatih,” kata Tony Ho, siang kemarin.

Menurut Tony, Nus berhasil membangung sepak bola di Makassar. “Dia sosok pekerja keras dan punya disiplin tinggi. Semua itu ditularkan ke kami. Saat menangani kami, ia sangat keras, tapi hasilnya memang bagus,” beber Tony.

Wartawan senior yang juga pengamat sepak bola Makassar, Piet Heriady Sanggelorang juga punya kenangan tersendiri dengan Nus. “Paling berkesan saat Sunar Arlan dipanggil timnas tahun 1947. Sunar yang dipanggil untuk persiapan Asian Games di New Delhi, menjadi pemain PSM pertama di timnas saat itu. Berselang tujuh tahun kemudian, Sunar yang berposisi bek
kiri dipanggil lagi, namun sudah cedera. Makanya, dipanggillah trio PSM; Nus, Husein, serta Ramang. Meski begitu, karena timnas butuh bek kiri, Nus dan Husein dipulangkan. Hanya Ramang yang bertahan karena salah seorang striker cedera kala itu,” cerita Piet.
Tahun 1950-an, Nus juga sempat membela Sulsel di PON. “Dia memang gelandang PSM yang bagus. Sulit mencari sosok pemain seperti dia lagi,” kenang Piet. (amiruddin@fajar.co.id)

obat mata yang sarat seni


jangan lihat dia seksi atau vulgar
nilai dia dari sisi seni yang dia tampilkan.
Kecuali kalau Anda memang buta seni
sory...................becanda kok
sengaja saya tampilkan untuk tidak dicontoh..............
bahaya kalau sampai ada yang niru di Makassar......
hihihihihihi